Beban Koalisi Amerika Israel

Patrick Seale*

Dua pejabat tinggi pemerintah Obama berusaha keras menjamin keamanan Israel secara totoal dari kemungkinan bahaya apapun dari musuh-musuhnya agar koalisi Amerika Israel makin kokoh dibanding sebelumnya.

Kedua pejabat Amerika itu adalah Prof Stewart Levey, sekretaris bidang financial terorisme dan intelligen dan Andrew G Shapiro, asisten sekretaris State for Political-Military Affairs.

Apakah Levy dan Shapiro dengan pelindungan Amerika terhadap Israel dari serangan yang mungkin dilakukan oleh umat Islam yang marah dan putus asa, atau sebaliknya mereka mempertajam permusuhan kelompok anti-Amerika? Apakah keduanya mampu berkontribusi membujuk "Israel" untuk mencari perundingan damai atau bahwa mereka mendorong ekstremisme Israel untuk menantang Presiden AS?
Dengan kata lain, apakah upaya keduanya akan berkontribusi dalam promosi Obama yang akan membuat solusi konflik Arab - Israel dan untuk mencapai solusi perundingan dengan Iran atas ambisi program nuklirnya atau justru menghambat tujuan-tujuan mereka?

Stewart Levy selama bertahun-tahun memimpin upaya melumpuhkan perekonomian Iran. Tujuan utamanya untuk meyakinkan bank-bank dunia, melakukan tekanan terhadap mereka untuk tidak bertransaksi dengan Iran. Dia ingin mencegah kehadiran bank-bank Iran di Bank Dunia. Memang agar berhasil namun rekonsiliasi Teheran dan Washington semakin jauh bahkan Iran lebih menantang.

Agaknya Levy ingin makin memperluas kerja seperti di atas mencakup sekutu Amerika.

Sementara Andrew Shapiro ia mengkritik musuh-musuh Israel. Pada 16 Juli lalu di Washington ia menegaskan, bahwa salah satu tanggung jawab utama dari Departemen Luar Negeri AS adalah untuk melindungi hegemoni Israel dalam keunggulan kualitatif di bidang industry kekuatan militer. Sehingga Israel mampu menghadapi ancaman yang mungkin berasal dari negara tertentu atau koalisi atau dari negara lain.

Kata-kata Shapiro mengingatkan kata-kata pejabat Israel ketika mengecam Iran.”Tidak ada ancaman strategis yang mungkin terjadi melebihi senjata nuklir Iran.” Tegas Shapiro. Dia juga berpendapat bahwa Suriah merupakan tantangan keamanan signifikan bagi Israel dan roket Hizbullah dan Hamas juga menjadi ancaman yang menyerang pemukiman Israel.

Tapi Shapiro tidak pernah peduli sedikitpun akan ancaman serangan mematikan Israel terhadap tetangganya baik Libanon atau Jalur Gaza, seperti yang berkali-kali terjadi beberapa saat dan tahun lalu. Bahkan menimbulkan korban sipil tak terhitung lagi.

Sebaliknya, Shaipiro menilai Israel mengalami ancaman dan tantangan lebih serius dank eras saat ini sepanjang sejarahnya. Namun ia mengumumkan dengan bangga bahwa Amerika komitmen menjaga keamanan Israel secara penuh. Bahkan ia menegaskan, hubungan Israel – Amerika dalam bidang keamanan akan semakin dalam dan kuat di banding sebelumnya.

Ia melanjutkan bahwa Amerika meningkatkan dukungan dana sebesar 3 triliun dolar di tahun 2011. Agaknya Israel juga akan segera menerima pesawat tempur F32 model tercanggih. Bantuan system keamanan Kubah Baja anti roket jarah dekat dari Amerika kepada Israel juga sebentar lagi akan dipasang di perbatasan dengan Jalur Gaza dan Libanon. Bantuan yang ini mencapai nilai 205 juta dolar. Amerika juga sudah menggelontorkan dana untuk penghancuran terowongan Jalur Gaza.

Agaknya Shapiro tidak sensitive terhadap kecenderungan terbaru di Israel. Kalangan Israel sudah mulai menampakkan wajah aslinya dan ingin melepaskan diri dari “nilai kebersamaan” Israel – Amerika. Mereka lebih memilih politik rasis, tidak demokratis seperti yang dianut Menlu Israel Avidgor Lieberman. Selain mereka lebih loyal kepada rabi-rabi yahudi daripada kepada hukum. Dimana harian Haaretz menilai kecenderungan seperti bisa merusak hubungan Amerika – Israel.

Lebih dari itu, sejumlah penganut ideology Israel yang menolak gagasan Israel Raya di koalisi pemerintah Netanyahu menolak gagasan Obama tentang solusi dua negara. Juga menolak usulan melucuti Hanin Za’bi anggota Knesset yang ikut dalam relawan Freedom Flotilla dari keanggotannya di Knesset. Selain itu, Shaparo tidak nyadar bahwa terorisme Israel makin kental terhadap warga Palestina di Jerusalem dimana Israel sangat bernafsu meyahudikan kota suci itu.

Tindakan-tindakan yahudi ini tidak sejalan dengan nilai yang dikembangkan Obama atau nilai-nilai pendukung Israel di Amerika dari kalangan liberalis. Mereka ini resah dengan kecenderungan represif dan terorisme Israel di masyarakat Israel.

Kenapa Obama tidak berkutik? Agaknya ia konsen dengan pemilihan pertengahan di Kongres Amerika pada 2 November depan. Ia akan berlomba dengan 435 anggota dewan dan 34 anggota dari 100 anggota senator. Obama khawatir partai Demokratnya kalah dari Republik. Sekarang ia tidak berani melecehkan teman-teman Israel yang kritis. Melalui Shaparo, Obama ini menegaskan bahwa dukungannya kepada Israel masih kokoh.

Apakah Obama akan keras setelah pemilu pertengahan? Tidak ada bukti. Namun agaknya janjinya kepada bangsa Arab dan umat Islam di awal pidatonya di Kairo 4 Juni 2009 sudah berubah menjadi fatamorgana.

Eropa juga menyatakan resah karena Amerika tidak berdaya melarang Israel semakin membabi buta di Tepi Barat, Jerusalem Timur atau bisa membebakan blokade dari Jalur Gaza. ini agaknya yang mendorong Katrin Aston delegasi tinggi Uni Eropa untuk urusan keamanan dan luar negeri melakukan inisiatifnya sendiri ke Jalur Gaza. Meski ia mendukung sanksi atas Iran, namun ia berkunjung ke Jalur Gaza dan mendukung pembukaan perlintasan dengan pengawasan Eropa.

Tunggu saja sampai Eropa mampu menantang dan berani menghadapi Washingtn untuk menciptakan perdamaian di kawasan Timteng. (bn-bsyr)

* Kolumnis Inggris soal Timur Tengah
SUMBER

KATA MEREKA

Kontak Gema Dakwah : tarqiyahonline@gmail.com

Lebih baru Lebih lama