Hamas dalam Ideologi Zionis (1)

Ala’ Rimawi
Membahas sikap Israel terhadap faksi-faksi Palestina, masih didasarkan kepada bagaimana melakukan tindakan ovensif kuat kepada masyarakat Palestina untuk melemahkan semangat dan konfrontasi dengan penjajah Israel.
Pembicaraan ini tidak asing bagi perlakukan badan intelijen Israel terhadap kelompok kiri penganut perdamaian Palestina di tahun 1970an hingga sekarang dengan cara mendiamkan terhadap lembaga dan aktivitas kemasyarakatannya.
Keadaan seperti ini tidak memberikan peluang kepada faksi-faksi perlawanan Palestina yang elit dan kadernya mendekam di penjara-penjara Israel selama waktu yang lama dan berkali-kali. Perlakukan ini juga berlaku terhadap gerakan Islam dengan beragam kecenderungan dan arah perjuangannya seperti Gerakan Tablig dan Dakwah, Hizbut Tahrir, kemudian Israel tetap waspada terhadap tindakan Ikhwan yang di mata lembaga keamanan Israel sebagai kekuatan hakiki dan kompetitor PLO saat itu.
Namun kondisi ini juga memberikan peluang emas dan ruangg kepada Ikhwan untuk melakukan persiapan memperbanyak kader dan membangun. Dari sana kemudian melakukan pembinaan di seluruh penjuru wilayah Palestina, termasuk wilayah Palestina Dalam (jajahan tahun 1948).
Kondisi ini terus didiamkan sampai terkuak organisasi rahasia militer Ikhwan pimpinan Syekh Ahmad Yasin di tahun 1983 yang konsen membangun sistem militer yang mampu membidik target-target Israel. Ini menyebabkan Syekh Ahmad Yasin ditangkap dan kelompok di sekelilingnya. Pembicaraan soal arah perjuangan “Gerakan Hamas” di tahanan mulai meluas lagi sehingga perencanaan gerakan meluas hingga Tepi Barat dan kota sekelilingnya.
Lembaga keamanan Israel di kala itu, tepatnya di tahun 1982 dan selanjutnya, sudah yakin khususnya setelah PLO hengkang dari Libanon dan menguasai masyarakat Palestina, berusaha membangun sistem kepemimpinan alternatif dengan mengikat desa-desa yang gagal akibat kesadaran publik akan bahaya penjajah Israel.
Di fase itu, gerakan Ikhwan terus membangun kekuatannya dengan diam-diam dengan sistem usrah yang programnya bermuatan budaya, wawasan, agama, dan pembangunan fisik.
Ini berlangsung sampai Syekh Yasin dibebaskan dari penjara dalam proses pertukaran tawanan di tahun 1985. Sejak itu gerakan Ikhwan Syekh Yasin ini terus melakukan persiapan-persiapan untuk melahirkan Gerakan Perlawanan Islam Hamas melalui keterlibatannya yang intens dalam menghadapi penjajah Israel melalui aksi Intifadah I baik dengan kekuatan massa dan militer. Israel akhirnya terjepit dalam menghadapi gerakan Hamas meski para badan pendirinya dijebloskan dalam penjara saat Syekh Yasin ditangkap tahun 1989.
Israel terus melakukan langkah membendung laju Hamas dengan mengasingkan tokoh-tokohnya ke luar negeri di antaranya ke Libanon Selatan. Hal itu setelah kader Hamas menculik serdadu Israel.
Israel salah dalam melakukan langkah pengasingan. Sebab Hamas makin menguat di kalangan dunia dan terbuka di banding sebelumnya. Al-Qassam mulai dibentuk dan memamsauknya budaya baru yang disebut aksi “istisyahad”; bom syahid. Israel merasa menyerang menghadapi manusia yang mencari mati.
Permainan kehidupan yang dimajen Hamas telah melahirrkan nama-nama besar seperti Ir. Yahya Ayyash yang didahului oleh generasi pendiri atas gagasan ini dan murid-muridnya telah mendorong Israel mencari jalan keluar mengatasi masalah yang terus menerus tidak berpihak kepadanya. Wilayah serangan Intifadhah batu pun meluas dan lembaga keamanan Israel juga tidak berdaya mengadapinya.
Lantas bagaimana langkah Hamas pasca proses perdamaian Palestina? tulisan berikutnya akan membahasnya. (bsyr)

KATA MEREKA

Kontak Gema Dakwah : tarqiyahonline@gmail.com

أحدث أقدم