Keraguan-keraguan Yang Jelas Dalam Memahami As-Sunnah

KERAGUAN-KERAGUAN YANG JELAS DALAM MEMAHAMI AS-SUNNAH

(Asy-Syubuhat Al-Waridah Haula As-Sunnah An-Nabawiyyah)

MUQADDIMMAH :

Tulisan ini dibuat sebagai bantahan dari kalangan Ahlul Bait terhadap aliran yang mengatasnamakan Ahlul Bait lalu kemudian mencela sahabat Nabi yang lain, yang dikenal sebagai faham Syi’ah Imamiyyah Al-Itsna ‘Asyariyyah -hadahumullah (semoga Allah SWT memberi hidayah bagi mereka- Amin.

a. Tidak pernah ada satupun dikalangan para shahabat ra pada masa nabi SAW meragukan perintah nabi SAW, tentang wajibnya ittiba (mengikuti) dan menyampaikan semua risalah beliau SAW kepada semua manusia dan kepada generasi sesudah mereka, sehingga Tidak ada yang mereka sembunyikan satupun dari perintah dan perkataan nabi saw.

b. Para shahabat ra pun Tidak pernah memandang kepada sahabat lainnya dengan pandangan meragukan, apalagi permusuhan. Bahkan mereka selalu bersatu dalam aqidah yang sama, tujuan yang sama dan kecintaan kepada nabi yang sama.

c. Mereka para sahabat ra hidup dalam cinta-mencintai, saling tolong-menolong serta saling mendahulukan kepentingan sesama saudaranya, sehingga turun pujian dari sisi Allah SWT : “Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman sebelumnya, mereka mencintai para muhajirin, dan mereka tidak menaruh keinginan dalam hati mereka thd apa yang diberikan kepada muhajirin itu, dan mereka mengutamakan muhajirin lebih dari diri mereka sendiri sekalipun mereka sdari sdengan dalam kesulitan. Maka barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran darinya, mereka itulah orang yang beruntung”. (Al-Hasyr:9)

d. Saat nabi SAW wafat maka nampak realitas saling mencintai dikalangan mereka, memang terjadi ikhtilaf (perbedaan pendapat) karena masalah ini merupakan masalah wala kepada pemimpin tertinggi, tetapi mereka tetap menjaga perasaan cinta, adab berbicara serta berdiskusi yang menakjubkan.

PERISTIWA TSAQIFAH BANI SA’IDAH :

Berkumpul orang-orang Anshar di Tsaqifah setelah wafatnya nabi SAW untuk membicarakan tentang bagaimana dan siapa amir/khalifah setelah wafatnya nabi SAW? Maka datanglah beberapa orang muhajirin dibawah pimpinan Abubakar ra dan Umar ra untuk ikut berdiskusi. Maka orang-orang Anshar ingin memvote Ubadah bin Shamit ra, sementara orang Muhajirin ingin membai’at Abubakar ra, maka Abubakar ra sambil mengangkat tangan Ubadah dan Umar berkata : “Inilah Umar dan abu Ubaidah, maka berbai’atlah kalian kepada salah satu diantara keduanya”..!! Maka mendengar itu Umar dan abu Ubaidah menangis, berkatalah Umar ra : “Demi Allah engkau lebih utama dari kami wahai orang kedua dari 2 orang (At-Taubah:40), maka jawab Abubakar : “Tetapi engkau jauh lebih kuat dariku wahai Umar!”. Maka jawab Umar : “Kekuatanku bersama-sama dengan keutamaanmu”. Lalu Umar langsung berbai’at pada Abubakar diikuti para muhajirin, lalu diikuti Anshar, sampai-sampai dalam sirah Ibnu Hisyam disebutkan hamper-hampir orang-orang saling menginjak satu dengan yang lainnya karena takut tertinggal dalam berbai’at. Kecuali beberapa sahabat seperti Ali ra, Abbas ra, dan lai-lain yang sedang sibuk mengurus jenazah nabi SAW (karena mereka memang keluarga nabi SAW yang wajib mengurus jenazah nabi SAW), setelah selesai mengurus nabi SAW, maka Ali ra dan keluarga nabi SAW pun membai’at Abubakar, sehingga sempurnalah kekhilafahan sehingga datangnya fitnah dimasa Utsman ra.

KESAKSIAN AHLUL BAIT RA TENTANG PARA KHALIFAH SEBELUMNYA

a. Pendapat Ali ra tentang para sahabat ra : “Saya melihat sendiri semua sahabat Rasulullah saw. Tidak seorangpun dari kalian yang dapat menyamai mereka, mereka siang hari bergelimang pasir dan debu di medan perang, sedang malam hari banyak berdiri, ruku’ dan sujud, silih-berganti, nampak bekas-bekas hitam di dahi mereka, seolah mereka berpijak di atas bara api bila mereka ingat hari pembalasan, bila mereka ingat pada Allah berlinang airmata mereka sampai membasahi baju mereka, mereka bergontai seperti bergontainya pohon yang dihembus angin karena takutnya kepada siksa Allah, serta mengharap pahala dari Allah.[1].

b. Pendapat Ali ra tentang sahnya khalifah sebelumnya : “Orang yang membai’atku adalah orang yang membai’at Abubakar, Umar dan Utsman dengan bai’at yang sama. Bukankah bagi orang yang hadir untuk memilih dan bagi orang yang tidak hadir untuk menerima? Tapi sesungguhnya ia adalah syura yang dimiliki oleh Muhajirin dan Anshar. Mereka telah sepakat pada seseorang untuk menjadi Imam, ini adalah keridhaan Allah. Barangsiapa yang keluar dari kesepakatn maka ia keluar dengan tikaman atau perbuatan mengada-ada dan wajib untuk mengembalikan orang itu dari penyimpangannya, dan bila ia menolak maka perangilah ia.[2]

c. Kata-kata Ali ra yang lain tentang sahnya kekhalifahan sebelumnya : “Seandainya kami Tidak melihat bahwa Abubakar pantas memegang kekhalifahan maka niscaya kamilah yang pertama Tidak membiarkannya. [3]

d. Muhammad al Baqir bin Ali bin al-Husein ra ketika ditanya : Apakah Abubakar dan Umar telah menzhalimi hak anda atau mengambil hak anda? Maka beliau menjawab : “Tidak, demi Allah yang telah menurunkan al-Qur’an kepada hamba-NYA, mereka berdua Tidak pernah menzalimi hak kami walau sebesar biji sawi![4]

e. Muhammad al Baqir ditanya tentang perbedaan pendapat antara Fathimah ra dengan Abubakar ra tentang tanah Fadak, maka ia menjawab : “Demi Allah! Jika khilafah pada saat itu berada di tanganku, pasti aku akan memutuskan dengan keputusan Abubakar![5]

KEAKRABAN AHLUL-BAIT RA DENGAN PARA KHALIFAH YANG LAIN

a. Diriwayatkan dari Imam Bukhari dari Uqbah bin Harits ra, bahwa khalifah Abubakar pernah shalat Ashar, setelah keluar ia melihat al-Hasan bin Ali ra sedang bermain-main, maka segera beliau kejar dan digendong di atas pundaknya sambil berkata : “Demi Allah SWT anak ini lebih mirip dengan Rasulullah saw daripada Ali.” Mendengar ucapan itu Ali yang ada disampingnya tertawa.[6]

b. Diriwayatkan dari Husein bin Ali ra, bahwa khalifah Umar ra pernah berkata padaku suatu hari : “Wahai putraku, maukah kau datang kepadaku?” Maka suatu hari aku datang kermhnya dan kudapatkn beliau sdengan bercakap-cakap dengan Mu’awiyah sementara putranya Ibnu Umar duduk di pintu karena tidak berani mau masuk, maka aku segera kembali. Suatu hari ketika aku bertemu kembali dengan khalifah maka beliau berkata : “Mengapakah engkau Tidak mau datang kepadaku?.” Jawabku : “Aku telah datang kepadamu wahai amirul mu’minin, tapi kudapatkan engkau sedang bercakap dengan Mu’awiyah sementara anakmu saja tidak berani masuk, maka akupun segera pulang”. Maka kata Umar ra : “Demi Allah, engkau jauh lebih berhak untuk masuk ke rumahku daripada anakku sendiri, tidakkah engkau lihat uban dikepalaku ini? Sesungguhnya yang kupikirkan adalah Allah dan kalian wahai ahlul bait”. Sambil Umar ra meletakkan tangannya dikepalanya. [7]

c. Diriwayatkan oleh Ibnu Sa’ad dari Ja’far as Shadiq dari Muhammad al-Baqir dari Ali Zainal Abidin dari al-Husein ra katanya : Telah datang pada khalifah Umar pakaian dari Yaman, lalu segera dibagi-bagikannya pada kaum muslimin yang sedang di mesjid nabawi, setelah pembagian itu tiba-tiba cucu nabi SAW Hasan dan Husein keluar dari kamar bundanya Fatimah ra melangkahi para hadirin, maka Umar ra segera turun dari mimbar menyongsong keduanya sambil berkata : “Demi Allah yang jiwa Umar berada ditangan-Nya, hatiku tidak akan tenang sebelum bisa memberikan kedua cucu Rasulullah saw ini pakaian!” Maka ia menulis surat pada gubernurnya di Yaman agar mengirimkan 2 pakaian khusus untuk al-Hasan dan al-Husein.[8]

d. Begitu erat dan indahnya hubungan ahlul bait Nabi saw dengan para khalifah sehingga Ali ra menikahkan salah seorang putrinya bernama Ummu Kultsum dengan Umar ra dan Ali ra pun menamai beberapa putranya dengan Abubakar, Umar dan Utsman.[9]

PARA AHLUL BAIT NABI SAW TIDAK PERNAH MEMANFAATKAN NASABNYA

a. Diriwayatkan bahwa al-Husein ra pernah berbelanja di pasar, maka ia menawar barang ketika penjual barang itu tahu bahwa ia adalah cucu Nabi saw, maka iapun menurunkan harga barangnya karena hormatnya pada beliau, tetapi al-Hasan tidak mau menerimanya dan tidak jadi berbelanja, ia berkata : “Aku Tidak rela menggunakan kedekatan hubunganku dengan nabi saw untuk urusan duniawi”. Kejaidian itu dikomentari oleh Juwairiyyah bin Asma slh seorang pelayan Ali bin Husein, katanya : “Belum pernah Ali bin Husein makan 1 dirham pun yang didapatnya dari memanfaatkan kedekatan beliau dengan nabi saw!”

b. Diriwayatkan bahwa Ali Zainal Abidin bin Husein tidak pernah memberitahu orang lain saat akan bepergian, ketika ditanya mengapa, belia menjawab : “Aku tidak suka mendapat penghormatan orang lain karena dekatnya kekerabatanku dengan Rasulullah saw.[10]

Allahumma arinal haqqa haqqan warzuqnat tiba’ah, wa arinal bathila bathilan warzuqnajtinabah

_________________________________________________________________________________

[1] Nahjul Balaghah, DARI Subkhi Shalih, Darul Kutub al-Lubnani, Bairut, hal.143.

[2] Nahjul Balaghah, Ibnu Abil Hadid, jilid 3, hal 7, Darul Ma’rifah, Beirut

[3] Ibid, jilid 1, hal 30.

[4] Ibid, jilid 4, hal 82.

[5] Ibid, jilid 4, hal 42.

[6] Shahih Bukhari, Kitabul Manaqib, bab Shifat nabi SAW, jilid-I, hal.501.

[7] Kanzul Ummal, jilid 7 hal 105 dan al-Ishabah, jilid 1 hal 133, dengan sanad yang shahih.

[8] Ibid, jilid 7, hal 106

[9] Abqariyyatul Imam, hal.95, Darul Futuh, Kairo.

[10] Wafayatul A’yan li Ibni Khaliqan, jilid 2, hal 434, maktabah Nahdhah, Kairo.

smbr/al-ikhwan.net

KATA MEREKA

Kontak Gema Dakwah : tarqiyahonline@gmail.com

Lebih baru Lebih lama