Perubahan Itu Keharusan, Bukan Pilihan!

Lusuh… kumal… dekil…  Itulah kesan pertama yang nampak dari pria tua itu. Rambutnya yang putih dan kulitnya yang mengerut nan legam, semakin menyemburatkan kerentaannya. Ditemani asap rokok yang mengepul dari mulutnya, pria tua besar itu beraksi laksana seorang aktor. Wajahnya dibuat memelas agar menggoda kantong para penumpang Transjakarta untuk memberi ala kadarnya. Itulah senjata utamanya, selain topi ’kotak amal’ yang setia menemaninya.
Tidak jauh dari situ, seorang nenek nan tua, kurus, berkerudung jingga melangkah tegar. Seolah-olah dia sedang menunjukkan kekuatan dirinya yang tidak takluk dengan keganasan zaman. Sambil menggenggam erat karung putih yang dipanggul, tapaknya pasti menggetarkan bumi. Matanya nanar memandang tajam, mencari kepingan-kepingan gelas plastik dan rongsokan lainnya untuk ditukar dengan rupiah. Dengan sabarnya, ia kumpulkan sedikit demi sedikit ’sampah’ air minum mineral tersebut, hingga memenuhi karung yang tak pernah lepas dari punggungnya itu. Dalam hatinya dia berujar, ”meskipun dunia terus menghinanya dengan berbagai kemelaratan, Aku tidak akan merendahkan diri dan kalah dalam pertarungan hidup ini.” Senandungnya dalam jiwa.
Jika dicermati, kedua insan ini nyaris memiliki kesamaan. Dalam hal umur, lebih dari setengah abad kehidupan sama-sama mereka lalui. Telah banyak cerita kehidupan yang mereka gambar menjadi drama tak bertuan yang tersimpan di nurani. Pun begitu dilihat dari segi nasib. Mereka masuk dalam ’kotak’ kaum marginal yang tak disahabati alam, tak dicintai kehidupan.
Perbedaan kedua orang renta ini hanya pada perjuangan. Kakek tua yang meskipun nampak renta, namun dari ketegapan tubuhnya tersirat tenaga yang luar biasa. Meski sungguh disayangkan, kemampuan itu tertutupi dengan keputusasaannya atau justru dengan kemalasannya. Sehingga kemudian, sang kakek memilih menjadi pengumpul ’rupiah’ keikhlasan.
Berbeda dengan sang nenek pejuang. Meskipun sekujur tubuhnya dibanjiri otot sebagai bentuk ’protes’ tubuh yang terus dieksploitasi tanpa henti, Semangat berjuangnya terus hidup dan mengalahkan kerentaannya tersebut.  Nenek itu telah menjadi menara kokoh yang ujungnya tak mampu diguncangkan gempa sekalipun. Dia yakin bahwa perubahan akan datang pada setiap jasad yang berusaha keras untuk mencapainya.
Kita tilik benak sang nenek tua. Mungkin nuraninya rutin berujar bahwa kelelahannya menaklukkan keganasan dunia, akan terbayar tuntas dengan kehidupan akhirat yang menjanjikan kenikmatan tak terbatas. ”Bukankah tangan di atas lebih baik dari pada tangan di bawah? Bukankah mengemis di mata sang Khaliq adalah pekerjaan hina? Bukankah setiap orang yang merasa kelelahan setelah bekerja seharian untuk mencari penghasilan yang halal, sangat dimuliakan di hadapan Tuhannya,” gumamnya.
Mungkin kisah di atas sangat sering kita temui, bahkan nyaris setiap hari tercecer di pinggir-pinggir trotoar jalan maupun jembatan penyeberangan. Namun, mampukah kita mengambil nilai dari kisah-kisah tersebut yang kemudian menjadi media kontemplasi pribadi? Atau hanya menjadi pernak-pernik kehidupan yang tidak penting bagi kita?
Jalan Panjang itu!
Sebagai perjalanan yang sangat panjang dan berliku, reformasi birokrasi juga akan mengalami kerentaan seperti kisah di atas. Dan kita akan memilih jalan seperti sang kakek yang berputus asa dan berhenti berjuang dengan mengemis kepada langit. Atau terus semangat berjuang sampai alam melumat tubuh-tubuh ini. Hanya dua itu saja!
Kahlil Gibran bersenandung ”Dibalik salju yang gugur dan tebalnya awan gemawan serta prahara yang menderu-deru, ada suatu Roh Suci yang memahami keadaan buruk dari umat manusia dengan rasa kasih-sayang.” Itulah darah semangat yang harus terus mengalir dalam nadi kita. Pertempuran melumat birokrasi usang yang menjangkit ’negeri garuda’ ini sejak merdeka, bukanlah pertarungan sehari, sebulan, setahun atau sampai kapan pun. Gerakan ini butuh waktu yang tidak sedikit, butuh logistic yang melimpah, butuh ketahanan yang tak kunjung habis. Pastinya, harus juga disadari bahwa gerakan yang kita lakukan ini juga sepenuhnya dibimbing Pemilik Kehidupan. Lewat ilhamNya kita dituntun menelurkan ide-ide segar yang tiba-tiba menyelinap di logika. Lalu mengapa kita harus kalah dengan berbagai isu miring, tekanan politik, maupun ancaman yang nyaris setiap detik menghiasi media massa. Bukankah tujuan kita sudah sangat jelas, Perubahan!
Mengutip pesan mantan Menkeu, Sri Mulyani Indrawati, bahwa reformasi birokrasi sebagai proses perbaikan institusi adalah proses belajar seumur hidup. Masa-masa honeymoon bagi pegawai negeri telah habis. Kini masyarakat mulai menagih komitmen perubahan itu. Lalu, haruskah harapan itu kita hempaskan kembali! Dan ketika kita lelah dengan tantangan dan hambatan yang menghadang laju pedati reformasi ini, maka kokohkan kembali dengan bersandar kepada pemilik kehidupan.
Tidak ada kata putus asa di nurani pecinta perubahan. Karena jika kita tidak pernah menyerah berarti kita tidak pernah kalah. Itulah prinsip yang harus terus dipegang teguh. Tidak lekang dimakan zaman, tidak ciut digerus waktu, tidak hancur ditempa kerasnya kehidupan. Pesan Menteri Keuangan Agus Martowardoyo untuk tetap bekerja dengan prinsip good governance, integritas, dan profesionalitas dalam bekerja, selayaknya menjadi nafas setiap pegawai Kementerian Keuangan. Dan perubahan itu merupakan keniscayaan. Karena setiap entitas yang tidak berubah, pasti akan punah.
Sinergisitas!
Kejahatan yang terorganisir, akan mengalahkan kebenaran yang terorganisir. Untuk itu, diperlukan sinergi yang kokoh antara elemen perubahan untuk terus menggerakkan roda reformasi birokrasi. Karena harus disadari bahwa kesuksesan perjuangan itu diinspirasi oleh yang bervisi, dimiliki yang berkeyakinan dalam, dilaksanakan dengan ikhlas, dimulai oleh yang cerdas, dimenangkan oleh yang berani, diraih oleh yang sehat dan kuat, digerakkan oleh yang bermotivasi, diraih dengan perencanaan matang, dihasilkan oleh kerja keras tim dan dilalui dengan kerja tuntas (B.S. Wibowo). Dan jalan perubahan ini, bukan tempat bagi para penggerutu yang berceloteh kosong dan menjadi kerikil-kerikil tajam penghalang laju perubahan.
Tidak ada pilihan lain bagi generasi saat ini selain bergabung dalam ombak perubahan. Karena siapa yang menghalangi jalan, dia akan terlindas. Masih terlalu banyak kursi-kursi kosong di gerbong kereta reformasi yang harus diisi. Oleh mereka yang mencintai negeri dan ingin menyelamatkan generasi.
Sadarilah, negeri ini masih memiliki harapan untuk bangkit. Bangsa ini memiliki kemampuan untuk menunjukkan taringnya di dunia internasional. Tantangan yang dihadapi pada masa transisi ini, hanyalah proses sesaat yang akan segera berlalu. Karenanya, janganlah berputus asa. Sebab dibalik kerancuan dunia, ungkap Gibran dalam syairnya, dibalik zat dan mega dan udara, dibalik semua benda, terdapat suatu kekuatan yaitu keadilan. Ya… keadilan akan tumbuh menjadi bagian kehidupan bangsa ini. Jika kita yakin dan terus menguras keringat untuk mewujudkan hal itu.
Gerakan ini butuh sinergi. Hanya sinergisitas yang mampu mengokohkan mental-mental kita. Yang sering luluh oleh keadaan, hanyut terbawa arus kenikmatan, maupun larut bersama godaan yang tampil sekejap.
Perubahan itu butuh sinergi sebagai komponen utamanya. Sinergi yang menghasilkan kesamaan langkah, kesinambungan komitmen, dan kesatuan hati mencapai tujuan perubahan. Haruskah kita berhenti setelah jalan panjang yang telah ditapaki selama ini menampakkan secercah asa.
Mari kuatkan kembali komitmen kita untuk berubah dan mensukseskan perubahan. Meskipun hasil kerja itu tidak dinikmati oleh diri kita. Jadilah nenek tua renta yang terus bertarung menapaki kehidupannya. Terus bertarung bersama kelemahan yang tersirat di tubuh keriputnya. Dan jika jalan seperti itu tidak kita pilih, jalan mana yang akan kita pilih?

KATA MEREKA

Kontak Gema Dakwah : tarqiyahonline@gmail.com

Lebih baru Lebih lama