Apa Sinkretisme?

Tarqiyah :
Oleh: Akmal Sjafril

Sinkretisme adalah pandangan yang memiliki sejarah panjang dalam peradaban umat manusia. Sebelum istilah “pluralisme” dikenal orang, Sinkretisme sudah banyak dibahas. Para ulama Indonesia, sebutlah misalnya Buya Hamka, telah banyak sekali menulis perihal masalah Sinkretisme ini.
Berbeda dengan dua tren pluralisme yang telah dibahas sebelumnya (yaitu Humanisme Sekuler dan Teologi Global) yang murni dari Barat, tren Sinkretisme justru lebih dulu berkembang di Timur. Meski demikian, bukan berarti gejala-gejala sinkretisasi tidak dapat ditemukan di Barat. Kita dapat melihat pengaruhnya pada konsep Teologi Global yang menghendaki semua agama untuk saling mempengaruhi sehingga bergerak ke arah yang konvergen.
Dalam bukunya, Tren Pluralisme Agama, Anis Malik Thoha memfokuskan pembahasannya seputar Sinkretisme dalam tren pemikiran sosio-religius yang terjadi di India. Pembatasan semacam ini agaknya didasarkan pada kenyataan bahwa peradaban Hindu di India-lah yang sejauh ini sangat ‘terbuka’ untuk kemungkinan terjadinya sinkretisasi. Pemikiran-pemikiran sinkretis dari India banyak dibawa ke Benua Eropa, terutama karena adanya hubungan yang erat antara India dan Inggris.
Sebagaimana yang telah diamati oleh John Hick (lihat edisi sebelumnya), penjajahan bangsa-bangsa Barat terhadap negeri-negeri di Timur senantiasa membawa misi Kristenisasi, namun pada akhirnya tidak jarang justru Barat-lah yang menerima pengaruh dari negeri-negeri jajahannya. Pemikiran Sinkretisme pada akhirnya mempengaruhi konsep pluralisme dari banyak orang, baik secara langsung maupun tidak langsung, misalnya pada pemikiran Wilfred Cantwell Smith (Teologi Global), Seyyed Hossein Nasr (Hikmah Abadi) dan aliran Teosofi.
Pada abad modern India, tren Sinkretisme direpresentasikan dalam beberapa gerakan pembaruan sosio-religius. Paling tidak ada tiga gerakan yang memiliki peran penting dalam kaitannya dengan pemikiran keagamaan, yaitu gerakan Brahma Samaj, gerakan Ramakrishna (Ramakrishna Mission), dan masyarakat teosofi, kemudian ditambah dengan gagasan-gagasan keagamaan Mahatma Gandhi.

Dari Ram Mohan Roy ke Ramakrishna
Ram Mohan Roy, perintis gerakan Brahma Samaj, sering disebut-sebut oleh para pemikir Barat sebagai pionir gerakan pembaruan sosio-religius Hindu modern (abad ke-19 Masehi). Meski demikian, ide-ide yang digagasnya sebenarnya telah diungkapkan empat abad sebelumnya oleh Kabir dan muridnya. Hanya saja, Kabir hanya melakukan sinkretisasi pada ajaran Hindu dan Islam, sedangkan Ram Mohan Roy juga meramu dari unsur-unsur Kristen. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa tren Sinkretisme telah muncul secara nyata di India sekurang-kurangnya sejak abad ke-15, melalui pemikiran-pemikiran Kabir.
Ram Mohan Roy lahir sebagai penganut agama Hindu, namun kemudian ia meninggalkannya setelah mempelajari Islam. Meski demikian, studinya yang mendalam terhadap Upanishad, bahasa Sansekerta dan Inggris, begitu juga debat-debatnya dengan para misionaris, telah memberi pengaruh besar pada pemikiran-pemikirannya. Di sinilah terjadi sinkretisasi dalam pribadi Ram Mohan Roy, sehingga dalam salah satu risalahnya yang berbahasa Parsi ia mengatakan bahwa kesalahan berlaku di semua agama tanpa kecuali. Oleh karena itu, akal harus digunakan secara murni untuk memahami agama dan hubungan antar agama. Dalam pandangannya, seseorang tak bisa menghukumi agama-agama lain berdasarkan ukuran-ukuran atau nilai-nilai yang khusus untuk agamanya sendiri.
Satu hal yang menjadi pembeda bagi gerakan pemikiran Ram Mohan Roy di antara gerakan-gerakan sejenis lainnya adalah kemiripannya dengan konsep Deisme yang pernah berkembang di kalangan rasionalis Eropa pada abad ke-18. Aliran ini tidak mempraktekkan doa dan ritual-ritual sembahyang tertentu, melainkan cukup dengan berkontemplasi, mengingat bahwa alam ini ada Penciptanya, dan seterusnya. Nama gerakannya pun (yaitu Brahma Samaj) mencerminkan ciri ini. “Brahma” adalah tuhan dalam kitab suci Upanishad, yang menjadi sifat dari kata “Samaj” yang berarti “masyarakat”. Dengan demikian, “Brahma Samaj” bermakna Masyarakat Berketuhanan (Theistic Society), yaitu kelompok masyarakat yang terbuka bagi siapa saja yang mengakui adanya Tuhan, terlepas dari warna kulit, kasta, kebangsaan, agama dan seterusnya.
Penerus Ram Mohan Roy, yaitu Keshab Chandra Sen, menerapkan langkah yang lebih radikal dengan menerapkan nilai-nilai dan etika Hindu dalam dunianya mengikuti model yang dilakukan oleh para misionaris Kristen yang sangat memfokuskan pada bantuan atau jasa kemanusiaan. Sen sendiri mengatakan bahwa dirinya berusaha untuk mengkristenkan Hindu dan menghindukan Kristen (christianizing Hinduism and hinduizing Christianity). Sen mengkompilasi teks-teks ketuhanan dari Hindu, Budha, Yahudi, Kristen, Islam dan kitab-kitab suci Cina dengan judul Slokasangraha untuk dibaca dalam ibadah-ibadah ritual yang diadakannya pada setiap hari Ahad. Kira-kira setahun sebelum wafatnya, Sen mendeklarasikan apa yang disebutnya sebagai “Tatanan Agama Baru” (“New Dispensation”) yang diklaimnya datang dari Tuhan sendiri, dengan sasaran utama mempersatukan seluruh manusia di bawah Tuhan yang satu. Sebagaimana yang telah diperkirakan oleh para ahli, pada akhirnya tren Sinkretisme telah menciptakan sebuah agama baru, meskipun pada awalnya mengaku mengagung-agungkan semua agama.
Gerakan pemikiran keagamaan modern di India juga diwarnai dengan kehadiran Gerakan Ramakrishna yang dirintis oleh Sri Ramakrishna. Ramakrishna adalah tokoh yang telah hidup dalam berbagai agama yang pada akhirnya berkesimpulan bahwa semuanya hanyalah langkah-langkah atau cara-cara yang berbeda menuju Tuhan yang Satu. Ramakrishna sangat mengecam gerakan dakwah atau misionaris yang berusaha membuat orang berpindah agama, dan ia juga menganjurkan agar setiap orang tetap dalam agama aslinya. Pemikiran-pemikiran Sri Ramakrishna ini kemudian disebarluaskan ke seluruh dunia oleh salah satu muridnya, yaitu Swami Vivekananda.

Mahatma Gandhi
Tokoh dalam sejarah kemerdekaan India, yaitu Mohandas Karamachand Gandhi, atau yang biasa dikenal dengan nama Mahatma Gandhi, adalah figur penting lainnya dalam pemikiran-pemikiran keagamaan modern di India. Menurut Anis Malik Thoha, pemikiran-pemikiran Gandhi sebenarnya lebih bercorak religius daripada politis. Gandhi selalu berangkat dari keyakinan Hindu-nya yang sangat kuat dan tidak mengakui sekularisme sama sekali serta tidak membeda-bedakan antara agama dan politik, melainkan sepenuhnya meyakini bahwa agama mencakup seluruh wilayah kehidupan manusia.
Gandhi memaparkan teori agamanya yang juga cenderung pluralis. Dalam pemikirannya, agama itu ada dua macam. Pertama, “Agama Sempurna” (Perfect Religion), yaitu yang di luar jangkauan ekspresi dan komprehensi manusia, yakni Tuhan (the God) atau kebenaran (the Truth). Kedua, agama sebagaimana yang dipahami manusia. Yang pertama adalah satu atau tunggal, sedangkan yang kedua adalah plural. Mengenai hal ini, Gandhi mengatakan dalam bukunya Semua Manusia Bersaudara yang juga diterbitkan di Indonesia:
Dengan menyebut “agama”, yang saya maksudkan bukan secara formal, atau secara adat, melainkan sesuatu yang mendasari semua agama, yang akan membawa kita bertemu muka dengan Sang Pencipta.
Perkenankan saya menerangkan apa yang saya maksud dengan agama. Yaitu bukan agama Hindu yang sudah barang tentu saya hargai lebih daripada agama-agama lain, tetapi yang saya maksud adalah agama yang melebihi Hindu, yang dapat mengubah watak seseorang dan yang mengikat seseorang secara mutlak pada kebenaran dalam dirinya dan yang sifatnya menyucikan. Agama merupakan unsur permanen dalam watak manusia yang tidak memperhitungkan berapa pun harganya untuk dapat mengungkapkannya sepenuh-penuhnya serta membuat jiwa sangat gelisah sampai dapat menemukan dirinya, mengenal Penciptanya dan menghargai hubungan yang sebenarnya antara Sang Pencipta dan dirinya sendiri.
 Saya belum pernah melihatNya, begitu juga saya tidak mengenalNya. Saya telah ikut menerima keyakinan dunia akan Tuhan, dan karena keyakinan saya itu tidak tergoyahkan, saya memandang keyakinan itu menjadi pengalaman. Namun, karena dapat dikatakan bahwa melukiskan keyakinan sebagai suatu pengalaman sama dengan merusakkan kebenaran, maka barangkali lebih tepat dikatakan bahwa saya tidak dapat memberi ciri kepada keyakinan saya kepada Tuhan.”
Sebagaimana Ramakrishna, Gandhi juga berpendapat bahwa agama yang bermacam-macam itu hanyalah jalan-jalan menuju Tuhan yang Satu, berdasarkan penjelasannya di bawah ini:
Agama adalah ibarat jalan yang berbeda-beda namun menuju ke titik yang sama. Apakah kita menempuh jalan yang berbeda-beda, selama kita sampai di tujuan yang sama, tentu tidak menjadi masalah. Pada kenyataannya, mungkin banyaknya agama sama dengan banyaknya individu.
Pada akhirnya, Gandhi sampai pada sebuah kesimpulan yang kontroversial. Ia mengatakan bahwa semua agama itu benar, namun juga memiliki beberapa kesalahan di dalamnya, dan semua agama itu bagi Gandhi sama berharganya sebagaimana agamanya sendiri, yaitu Hindu. Menurut Gandhi, dengan kesimpulan ini, maka tak akan ada ide untuk berpindah agama. Sebaliknya, yang muncul adalah pemikiran yang menjurus pada Sinkretisme, sebagaimana kata-kata Gandhi yang dikutip oleh Anis Malik Thoha:
Looking at all religions with an equal eye, we would not only not hesitate, but would think it is our duty, to adopt into our faith every acceptable feature of other faiths.
(Memandang semua agama dengan pandangan yang equal, kita bukan saja akan menjadi tidak ragu-ragu, tapi malah merasa wajib, mengadopsi setiap fitur yang dapat diterima dari agama-agama lain.)
Buya Hamka pernah memberikan catatan tersendiri mengenai sosok Mahatma Gandhi yang dahulu dipuja-puja sebagai tokoh perdamaian dan toleransi, termasuk juga di Indonesia. Dalam bukunya Ghirah dan Tantangan Terhadap Islam, Hamka menguraikan kisah bagaimana Gandhi mengatakan bahwa dirinya menghormati semua agama, namun ia mogok makan juga ketika memprotes keputusan kerabatnya yang hendak meninggalkan Hindu untuk memeluk Islam. Demikianlah sikap hipokrit Gandhi, yang semestinya tak perlu terjadi jika saja ia mengakui bahwa memang keyakinannya hanya bagi agamanya saja, sebagaimana orang lain pun hanya beriman pada agamanya masing-masing, dan bukan pada semua agama.

Sinkretisme dan Hinduisme
Seperti yang telah dapat kita simpulkan dari uraian di atas, sekedar menggabung-gabungkan ajaran satu agama dengan agama yang lainnya tidaklah cukup untuk menjelaskan fenomena Sinkretisme. Sinkretisme itu sendiri berasal dari dua poin pemikiran yang kontradiktif, yaitu bahwa semua agama itu benar berasal dari Tuhan, namun pada saat yang bersamaan semua agama juga memiliki kesalahan. Oleh karena itu, para penganut paham Sinkretisme tidak ragu ‘menutupi kesalahan-kesalahan dalam agamanya sendiri’ dengan ajaran agama dari luar.
Alasan dari berkembang luasnya Sinkretisme di antara penganut agama Hindu dapat terjawab dari karakter agama Hindu itu sendiri. Karakter agama Hindu memang sangat memungkinkan terjadinya sinkretisasi dengan agama-agama atau paham-paham lain. Itulah sebabnya antara Hindu India dan Hindu Bali terbentang jarak perbedaan yang begitu jauh. Di India, Hindu pun bermacam-macam coraknya. Secara umum mereka menganggap sapi adalah hewan suci, namun ada yang menganggap bahwa tikus-tikus adalah hewan suci juga. Karena tikus itu hewan suci, maka mereka pun tidak keberatan makan roti dan minum susu bersama tikus-tikus yang hidup di kuil mereka. Ada pula suku yang mempraktekkan ritual-ritual semedi yang luar biasa menyakitkan dan mengerikan, termasuk berdiri di atas kepala dengan kepala terkubur di dalam tanah dan meminum air yang diciduk dengan tengkorak manusia. Dalam agama Hindu, ajaran agama dan corak budaya memang sangat mungkin untuk saling mempengaruhi. Di Indonesia, Sinkretisme terjadi juga karena pengaruh sisa-sisa ajaran Hindu, terutama di Pulau Jawa. Berbagai ritual yang dilaksanakan oleh sebagian umat Muslim kini banyak yang terambil dari ajaran agama Hindu yang pernah menguasai wilayah tersebut.
Meski Sinkretisme nyata-nyata terjadi di Indonesia, secara umum konsep Sinkretisme tidaklah populer untuk dibicarakan. Meski demikian, beberapa tokoh pluralis seperti Sumanto Al Qurtuby – yang merupakan alumnus Fakultas Syariah IAIN Semarang – telah berani menyatakan bahwa ‘kejawaan’ dan ‘keislaman’ adalah sama-sama ‘teks kebudayaan’ yang harus disikapi secara proporsional dan wajar, tidak mesti dipertentangkan satu sama lainnya. Dengan demikian, menurut Sumanto, istilah “Sinkretisme” dapat ditinjau tanpa menggunakan nada yang peyoratif dan menyesatkan. Mahasiswa jurusan Perbandingan Agama UIN Sunan Gunung Djati, Bandung, yang aksinya pada tahun 2004 terekam kamera dan rekamannya masih bisa dilihat di Youtube hingga hari ini, juga pernah menyatakan bahwa jurusannya (yaitu Perbandingan Agama) didirikan untuk ‘mempertentangkan agama-agama’ dengan tujuan mencari kebenaran sejati. Jika kebenaran tidak dapat ditemukan dalam agama Islam, maka ia harus dicari di agama lain. Itulah esensi dari Sinkretisme.(alintima')
 Wallahu A‘lam.

KATA MEREKA

Kontak Gema Dakwah : tarqiyahonline@gmail.com

Lebih baru Lebih lama