Jangan Menkambing Hitamkan Daging Kambing


IDUL ADHA, selain kental dengan nuansa ibadah, kental pula dengan ”nuansa kuliner”, khususnya yang bernuansa daging. Betapa tidak, ribuan hewan kurban disembelih dan dagingnya disebar merata hampir kepada setiap orang.
Pada hari itu, dan tiga hari sesudahnya, siapapun memiliki kesempatan untuk mencicipi kelezatan daging. Di Indonesia sendiri, hewan kurban yang paling mendominasi adalah sapi dan kambing atau domba.
Pertanyaannya, seberapa besar gizi yang dikandung dalam daging hewan kurban, khususnya daging kambing atau domba? Apakah pengkonsumsiannya bisa mengakibatkan gangguan kesehatan, khususnya bagi orang-orang tertentu?
Tidak dapat dipungkiri bahwa daging berwarna merah, semisal daging sapi dan kambing atau domba, seringkali mendapat cap buruk dengan berbagai alasan. Sebagian orang percaya bahwa daging putih (semacam daging ayam dan daging ikan) lebih sehat daripada daging merah. Orang pun sering menuding daging merah sebagai sumber kolestrol jahat yang dapat mengganggu kesehatan.
Memang, di samping menjanjikan kenikmatan dan kelezatan yang tiada taranya, daging merah yang berlemak, khususnya daging kambing, diyakini menyimpan potensi bahaya bagi kesehatan tubuh. Kadar kolesterol, trigliserida, dan lemak LDL yang tinggi merupakan faktor pencetus terjadinya penyakit jantung koroner.
Kadar lemak dalam darah yang tinggi akan diolah tubuh menjadi radikal lemak dan dapat menimbulkan kerusakan sel pembuluh darah. Kondisi ini pada gilirannya akan mengakibatkan aterosklerosis atau penyumbatan pembuluh darah.
Namun demikian, kurang bijak kalau belum apa-apa kita sudah su’uzhan pada si kambing atau si domba, tanpa memiliki pengetahuan yang memadai tentang hal tersebut. Padahal, boleh jadi, dengansu’uzhan itulah daging kambing yang asalnya bergizi justru malah mendatangkan penyakit. Mengapa? Sebab, sejak awal kita sudah berburuk sangka, alias cemas, dan takut terkena efek buruk daging kambing yang belum tentu buruk bagi kesehatan.
Sejumlah penelitian ilmiah pun membuktikan bahwa karunia Allah Ta’ala yang terwujud dalam daging kambing dan daging merah lainnya memiliki manfaat segudang. Bahkan, pada saat sekarang, daging merah bisa jauh berkualitas daripada tiga puluh tahun yang lalu karena teknologi pembibitan baru, strategi produksi yang lebih baik, dan teknik pengolahan daging yang lebih baik.
Lemak tak jenuh, yang baik untuk kesehatan, merupakan setengah lemak dalam daging kambing atau domba. Asam palmitoleat, asam 16-karbon lemak tak jenuh tunggal ditemukan pula pada kambing. Keduanya memiliki sifat antimikroba yang kuat.
Daging kambing memiliki nilai gizi tinggi karena mengandung mineral penting semacam zinc dan zat besi yang mudah diserap tubuh. Dalam tiga ons daging kambing, 30 persen kebutuhan tubuh akan zinc sudah terpenuhi. Mineral zinc ini sangat penting untuk pertumbuhan, perbaikan jaringan, dan sistem kekebalan tubuh yang sehat. Adapun kandungan zat besinya bisa memenuhi 17 persen kebutuhan tubuh yang diperlukan untuk pembentukan sel darah merah.
Daging kambing pun kaya akan vitamin B, khususnya B12 yang berguna dalam menjaga kelancaran proses metabolisme tubuh. Satu porsi daging kambing dapat memberikan 74 sampai 100 persen dari kebutuhan harian untuk vitamin B12.
Daging kambing merupakan sumber alam terbaik untuk asam amino yang disebut carnitine, yang diperlukan untuk menghasilkan energi dari asam lemak. Trace element unsur-unsur lain seperti tembaga, mangan, dan selenium juga ditemukan di dalamnya, selain berisi pasokan protein berkualitas tinggi.
Maka, jangan ragu untuk makan daging kambing, kecuali kalau Anda termasuk orang yang berisiko tinggi, semacam hipertensi. Tentu saja, untuk meminimalisasi efek negatifnya, kita pun harus lebih arif, bijak, dan cerdas dalam manajemen makan.
Makanan dengan kadar lemak tinggi dapat dinikmati (wajib malah) tetapi dengan tetap mengacu kepada azas kepatutan dan proporsionalitas. Lalu juga diimbangi dengan asupan serat, antioksidan, dan sumber nitrik oksida yang memadai. Sumber serat mikro yang baik antara lain adalah agar-agar dari rumput laut. Kemudian selain makanan pendamping yang menyehatkan, diperlukan juga aktivitas fisik berupa olahraga yang teratur. (Inilah)

KATA MEREKA

Kontak Gema Dakwah : tarqiyahonline@gmail.com

Lebih baru Lebih lama