Ahammiyatu Syahadatain (Pentingnya Dua Kalimat Syahadat)

GemaDakwah
Muqadimah

Syahadat merupakan hal yang sangat penting bagi seseorang, yang akan menentukan perjalanan kehidupannya. Syahadat mampu merubah orientasi duniawi menjadi orientasi ukhrawi yang secara langsung atau tidak dapat merubah tujuan dan perjalanan hidup seseorang. Rasulullah saw pun mengubah kondisi masyarakat Arab dari kehidupan jahiliyah menuju kehidupan Islami dengan syahadat.

Syahadat membawa perubahan mendasar dalam jiwa setiap insan. Syahadat merubah kondisi masyarakat dari akarnya yang paling bawah; yaitu dari sisi relung hatinya yang paling dalam. Ketika hati telah berubah, maka segala gerak-gerik, tingkah laku, pola pikir, kejiwaan dan segala tindak tanduk akan berubah pula. Namun semua itu akan dimintai pertanggungjawabannya kelak di hari akhir. Allah SWT menggambarkan keadaan seluruh manusia di hari akhir nanti. Setiap orang akan berhadapn dengan saksi-saksi mereka atas setiap perbuatan yang telah dilakukannya. Allah SWT berfirman dalam Q.S. An-nisa : 41

فَكَيْفَ إِذَا جِئْنَا مِنْ كُلِّ أُمَّةٍ بِشَهِيدٍ وَجِئْنَا بِكَ عَلَى هَؤُلَاءِ شَهِيدًا

Maka bagaimanakan (halnya orang kafir nanti), apabila Kami mendatangkan seseorang saksi (Rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu ) sebagai umatmu (Q.S. An-Nisa : 41)

Ayat ini menggambarkan bagaimana keadaan manusia di akhirat kelak. Allah SWT tidak akan merugikan hamba-Nya yang mengerjakan kebaikan walaupun sedikit, tapi akan diberinya pahala yang berlipat ganda atas kebaikannya itu. Allah SWT juga menggambarkan keadaan manusia nanti kalau mereka berhadapan dengan saksi-saksi mereka. Saksi meraka adalah Nabi-nabi mereka. Setiap umat akan berhadapan dengan saksi mereka. Pada waktu itulah dapat diketahui siapa yang sebenarnya pengikut Nabi dan siapa yang hanya pengakuannya saja yang mengikuti Nabi, tapi amal perbuatannya mendurhakai Nabi. Maka siapa yang telah disaksikan oleh Nabinya bahwa dia sungguh-sungguh telah mengikuti ajaran Rasul maka orang itu termasuk orang yang beruntung. Jika Nabinya berlepas diri dari mereka karena amal perbuatannya dan kepercayaannya tidak sesuai dengan yang diajarkan Rasul, maka meraka termasuk orang yang merugi. Nabi Muhammad saw, akan menjadi saksi bagi umat Islam nanti dan bagi seluruh manusia. Firman Allah SWT dalam Q.S. Al-Baqarah: 143
وكذلك جعلناكم أمة وسطا لتكونوا شهداء على الناس ويكون الرسول عليكم شهيدا

Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan, agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu (Q.S. Al-Baqarah: 143)

Nabi Muhammad saw mencucurkan air mata ketika mendengarkan ayat ini dibacakan oleh sahabat kepadanya. Beliau memikirkan bagaimana hebatnya suasana pada hari akhirat, beliau akan melihat dengan jelas pengikut-pengikut beliau yang setia dan benar dan pengikut yang pura-pura dan palsu, sebagaimana diterangkan dalam hadis Nabi Muhammad saw:

عن ابن مسعود قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: اقرأ على قلت : يا رسول الله أقرأ عليك ? وعليك أنزل ? قال : نعم إني أحب أن أسمعه من غيري فقرأت سورة النساء حتى أتيت إلى هذه الآية : فكيف إذا جئنا من كل أمة بشهيد الخ فقال : حسبك الآية فإذا عيناه تذرفان
.
Dari Ibnu Mas'ud dia berkata: "Rasulullah saw telah berkata kepada saya : "Tolong, bacakan kepada saya Alquran itu. Lalu saya menjawab: "Ya Rasulullah, akukah yang akan membacakan kepada engkau, padahal dia diturunkan kepada engkau?" Rasulullah berkata : "Betul, tapi saya ingin mendengarkannya dibaca oleh orang lain" Maka aku bacalah surat An Nisa' Ketika aku sampai membaca, ayat 41 ini maka beliau bersabda : "Sekarang cukuplah sebegitu saja". dan air matanya bercucuran keluar"
(H.R. Bukhari dan Muslim)

 
 
Terdapat beberapa urgensi kalimat syahadat, antara lain yaitu:

1. Pintu masuk ke dalam Islam ( اَلْمَدْخَلُ إَلَى اْلإِسْلاَمِ )

Pada fitrahnya, manusia telah mengakui keesaan Allah SWT. Namun sejak manusia dilahirkan dari sulbi orang tua mereka datang setan-setan pada mereka untuk menyesatkan mereka dari mengesakan Allah SWT. Dalam Q.S. Al-Araaf: 172, Allah SWT berfirman

وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي آدَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَى أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ قَالُوا بَلَى شَهِدْنَا أَنْ تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَذَا غَافِلِينَ

Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): Bukankah Aku ini Tuhanmu?, mereka menjawab: Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan) (Q.S. Al-Araaf: 172)

Dalam ayat tersebut diterangkan suatu janji yang dibuat pada waktu manusia dikeluarkan dari sulbi orang tua mereka, turunan demi turunan, yakni hal janji Allah menciptakan manusia atas dasar fitrah. Allah SWT memerintahkan roh mereka untuk menyaksikan susunan kejadian diri mereka yang membuktikan keesan-Nya, keajaiban proses penciptaan dari setetes air mani hingga menjadi manusia bertubuh sempurna dan mempunyai daya tanggap indra, dengan urat nadi dan sistem saraf yang mengagumkan dan sebagainya.

Dengan ayat ini Allah SWT bermaksud untuk menjelaskan kepada manusia, bahwa hakikat kejadian manusia itu didasari atas kepercayaan kepada Allah Yang Maha Esa. Sejak manusia dilahirkan dari sulbi orang tua mereka, ia sudah menyaksikan tanda-tanda keesaan Allah SWT pada kejadian mereka sendiri. Rasulullah saw bersabda:

ما من مولود إلا يولد على الفطرة فأبواه يهودانه أو ينصرانه أو يمجسانه كما تنتج البهيمة جمعاء هل تحسون فيها من جذعاء

Tak seorang pun yang dilahirkan kecuali menurut fitrah; kedua orang tuanyalah yang menjadikan dia Yahudi, Nasrani atau Majusi sebagaimana halnya hewan melahirkan anaknya yang sempurna telinganya. Adakah kamu ketahui ada cacat pada anak hewat itu?
(H.R. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah)

Rasulullah saw dalam hadist Qudsi:

يقول الله تعالى: إني خلقت عبادي حنفاء فجاءتهم الشياطين فاختالتهم عن دينهم وحرمت عليها ما أحللت لهم

Berfirman Allah Taala, Sesungguhnya Aku ciptakan hamba-Ku cenderung (ke agama tauhid). Kemudian datang mereka setan-setan dan memalingkan mereka dari agama (tauhid) mereka, maka haramlah atas mereka segala sesuatu yang telah Kuhalalkan bagi mereka.
(H.R. Bukhari dari Iyad bin Himar)

Penolakan terhadap ajaran tauhid yang dibawa Nabi sebenarnya perbuatan yang berlawanan dengan fitrah manusia dan dengan suara hati nurani mereka. Oleh karena itu tidaklah benar manusia pada hari kiamat nanti mengajukan alasan bahwa mereka alpa tak pernah diingatkan untuk mengesakan Allah SWT. Fitrah mereka sendiri dan ajaran-ajaran Nabi-nabi senantiasa mengingatkan mereka untuk mengesakan Allah dan menuruti seruan Rasul serta menjauhi diri dari syirik, yakni melalui pelafalan dua kalimat Syahadat.

Pada hakikatnya, syahadat merupakan pemisah seseorang dari kekafiran menuju iman. Artinya dengan sekedar mengucapkan syahadat, seseorang telah dapat dikatakan sebagai seorang muslim. Demikian pula sebaliknya, tanpa mengucapkan syahadat, seseorang belum dapat dikatakan sebagai seorang muslim.
Allah SWT berfirman:

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مُتَقَلَّبَكُمْ وَمَثْوَاكُمْ

Maka ketahuilah, bahwa tidak ada Ilah (yang Haq) melainkan Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat tinggalmu (Q.S. Muhammad: 19)

Apabila engkau telah yakin dan mengetahui pahala yang akan diperoleh orang-orang beriman, serta azab yang akan diperoleh orang-orang kafir di akhirat nanti, maka hendaklah berpegang teguh kepada agama Allah yang mendatangkan kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat nanti. Dan mohonkanlah kepada Allah agar Dia mengampuni dosa-dosa engkau dan dosa-dosa orang-orang yang beriman; hendaklah selalu berdoa dan berdzikir kepada-Nya dan janganlah sekali-kali memberi kesempatan kepada setan untuk melaksanakan maksud buruknya kepadamu. 

2. Intisari ajaran Islam  ( خُلاَصَةُ تَعَالِيْمِ اْلإِسْلاَمِ )

Syahadat mencakup dua hal; 
(1) Konsep La ilaha ilallah; merealisasikan segala bentuk ibadah hanya kepada Allah, baik yang dilakukan secara pribadi maupun secara bersamaan (berjamaah). Dari sini akan melahirkan keikhlasan kepada Allah SWT. Allah SWT berfirman:

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ

Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya; Bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian Aku
(Q.S. Al-Anbiya: 25)

Dalam ayat ini Allah SWT menegaskan dengan pasti, bahwa setiap Rasul yang diutus-Nya sebelum Muhammad saw adalah orang-orang yang telah diberi-Nya wahyu yang mengajarkan bahwa tidak ada tuhan selain Allah SWT. Oleh sebab itu menjadi kewajiban bag manusia untuk menyembah Allah semata. Dan tidak ada sesuatu dalil pun, baik dalil aqli maupun dalil naqli yang disampaikan oleh semua Rasul-rasul Allah, yang membenarkan kepercayaan selain kepercayaan tauhid kepada Allah SWT.

(2) Konsep Muhammad adalah utusan Allah, mengantarkan pada makna bahwa konsep ini menjadi konsep yang mengharuskan kita untuk mengikuti tatacara penyembahan kepada Allah sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah SAW. Atau dengan kata lain sering disebut dengan ittiba. Firman Allah SWT:

ثُمَّ جَعَلْنَاكَ عَلَى شَرِيعَةٍ مِنَ الْأَمْرِ فَاتَّبِعْهَا وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَ الَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ

Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan agama itu, maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui
(Q.S. Al-Jaatsiyah: 18)

Peraturan yang termuat dalam wahyu yang harus diikuti, tidak boleh mengikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahuinya. Syariat yang dibawa oleh para Rasul terdahulu dan syariat yang dibawa Nabi Muhammad saw pada asasnya dan hakikatnya sama, berasaskan tauhid, membimbing manusia ke jalan yang benar, mewujudkan kemaslahatan dalam masyarakat, menyuruh berbuat baik dan mencegah berbuat mungkar. Jika terdapat perbedaan itu bukan masalah pokok, hanya dalam pelaksanaan ibadah dah cara-caranya. Hal itu disesuaikan dengan keadaan, tempat dan waktu.

3. Konsep dasar reformasi total ( أَسَاسُ اْلاِنْقِلاَبِ )

Syahadat merupakan dasar perubahan total, baik pribadi maupun masyarakat. Syahadat layaknya cahaya yang sangat terang, sehingga dapat mengeluarkan umat manusia dari kehidupan yang gelap gulita (jahiliyah). Allah berfirman:

أَوَمَنْ كَانَ مَيْتًا فَأَحْيَيْنَاهُ وَجَعَلْنَا لَهُ نُورًا يَمْشِي بِهِ فِي النَّاسِ كَمَنْ مَثَلُهُ فِي الظُّلُمَاتِ لَيْسَ بِخَارِجٍ مِنْهَا كَذَلِكَ زُيِّنَ لِلْكَافِرِينَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar daripadanya? Demikianlah Kami jadikan orang yang kafir itu memandang baik apa yang telah mereka kerjakan (Q.S. Al-Anaam : 122)

Syahadat dapat merubah kondisi suatu masyarakat, bangsa dan Negara secara menyeluruh, dengan sentuhan yang sangat dalam yaitu dari dalam tiap diri insane. Jika seseorang dapat berubah, maka ia akan menjadi perubah yang akan merubah masyarakatnya. Allah berfirman:

إِن اللهَّ لا يغُيَرِّ ماَ بقِوَمْ حتََّى يغُيَرِّوُا ماَ بأِنَفُْسهِمِْ

Sesungguhnya Allah tidak akan merubah kondisi suatu kaum, hingga mereka mau merubah diri mereka sendiri (Q.S. Ar-Raad: 11)


4. Hakikat dakwah para Rasul (حَقِيْقَةُ دَعْوَةِ الرُّسُلِ)

Pada hakekatnya dakwah Rasulullah saw adalah dakwah untuk menegakkan dua hal; yaitu mentauhidkan Allah dan menggunakan metode Rasulullah saw dalam merealisasikan ibadah kepada Allah SWT.

5. Keutamaan yang besar ( فَضَائِلُ عَظِيْمَةٍ )

Syahadat memiliki keutamaan yang besar, diantaranya ialah sebagaimana digambarkan dalam hadist berikut:

عَن عبُاَدةَ بْن الصاَّمِت أنَهَّ قاَل سمَعِْت رَسوُل اللهَّ صلََّى اللهَّ علَيَهْ وَسلَمَّ يقَوُل مَن شهَدِ أَن لا إلِهَ إِلا اللهَّ وأََن مُحمَدَّاً رَسوُل اللهَّ حرَمَّ اللهَّ علَيَهْ الناَّرَ

Dari Ubadah bin al-Shamit, aku mendengar Rasulullah saw bersabda, Barang siapa yang bersaksi tiada Tuhan selain Allah dan bahwasanya Muhammad adalah utusan Allah, maka Allah akan mengharamkan neraka baginya (H.R. Muslim).
Wallahu A‘lam.

 

KATA MEREKA

Kontak Gema Dakwah : tarqiyahonline@gmail.com

Lebih baru Lebih lama