Kini Perempuan Turki Boleh Berjilbab di Parlemen

Tarqiyah : Empat perempuan Turki berhasil meruntuhkan sekularisme Turki. Untuk pertama kali, keempat perempuan dari Partai Pembangunan dan Keadilan (AKP) menghadiri sidang parlemen, Kamis (30/10/2013) dengan mengenakan hijab. Sebelumnya, hijab merupakan hal terlarang dikenakan perempuan di Parlemen.

International Businees Times memberitakan, keempat perempuan itu adalah Sevde Bayazit Kacar, Gonul Bekin Sahkulubey, Nurcan Dalbudak dan Gulay Samanci yang masuk gedung parlemen tanpa diprotes oleh siapapun. Mereka juga memutuskan untuk mengenakan jilbab usai menunaikan ibadah haji bulan lalu.

“Saya tak akan menanggalkan jilbab saya,” tutur Sahkulubey kepada koran lokal. “Karena keputusan ini dilakukan antara Allah dan pengikutnya,” sambungnya.

Partai AKP yang dikenal moderat dan berkuasa sejak 2003, pelan-pelan mencabut larangan berjilbab yang diterapkan sejak lama. Bulan lalu, Turki mengizinkan para pegawai negeri perempuan mengenakan penutup kepala, walaupun sampai kini larangan berjilbab masih diberlakukan di beberapa tempat. Di antaranya di pengadilan, hakim, jaksa, petugas polisi dan personil militer.

“Saya mengerti peristiwa historis ini merupakan langkah penting dalam proses demokratisasi Turki,” kata PM Recep Tayyip Erdogan yang istrinya telah mengenakan hijab bersama istri Presiden Abdullah Gul.

Bagaimanapun kebijakan ini memercikkan kritik dari kelompok oposisi. Partai Rakyat Republik (CHP) misalnya menuduh Erdogan dan partainya mengkhianati cita-cita negara modern dan sekular yang dicanangkan Mustafa Kemal Ataturk, 1923.

CHP juga mengancam hendak membuat keributan di parlemen sebelum keempat perempuan itu masuk ke gedung parlemen. Seperti yang dialami Merve Safa Kavakci pada 1999. Wakil Partai Kebajikan itu diolok-olok saat masuk ke gedung parlemen dan ditolak saat hendak disumpah menjadi anggota parlemen. Bahkan, kewarganegaraannya dicoret dan kehilangan kursi di parlemen.

Namun kini, kehadiran keempat perempuan itu, meningkatkan citra AKP dan menyebabkan oposisi jadi serba salah. “Dengan mengenakan hijab, maka tercipta persepsi bahwa mereka di pihak yang lemah,” tutur Muhareem Ince, wakil ketua grup CHP.

“Kami tidak akan melihatnya sebagai korban saat kekuasaan Ardogan sangat besar,” tambahnya. Sejauh ini belum jelas apakah pemakaian hijab di Turki bakal berdampak bagi Turki yang masih berupaya keras agar bisa bergabung dalam Uni Eropa.

“Sebaiknya pemakaian hijab tidak diwajibkan. Beri perempuan kebebasan untuk menentukan pilihannya,” ujar Ria Oomen-Ruijten, penulis notulen rapat di parlemen Turki. (inilah/ded/dakwatuna)

KATA MEREKA

Kontak Gema Dakwah : tarqiyahonline@gmail.com

Lebih baru Lebih lama